Friday, July 31, 2009

Cerita Tentang DIA - Bag 1

Aku mengenal sosok itu pada suatu malam di sekitar bulan Maret 2008 kalau aku tidak salah (lupa! Lupa lupa lupa lupa lagi waktunya *sambil nyanyiin lagu Kuburan*.;)), ketika itu sedang masa peak season (masa2 sibuk) di kantor. Padahal sebenarnya dia sudah mulai masuk kantor beberapa bulan sebelumnya, tetapi aku baru benar-benar ”ngeh” akan keberadaan dirinya yah sekitar bulan Maret 2008 itulah. Tepatnya ketika kami sama-sama lembur di kantor untuk menyelesaikan laporan audit klien kami masing-masing. Pada malam itu dia mengangkat telefon, dan ternyata telefon itu ditujukan untuk aku, dan dia langsung bertanya: ”ada yang namanya Rita gak?”, ”yup saya!!” jawabku, dan itulah pertama kalinya aku berbicara langsung dengan DIA.

Setelah menerima telefon, aku pun bertanya: ”yang tadi angkat telfon itu namanya siapa” kata ku pada seorang teman di sebelahku, ”perasaan aku baru liat deh” sambung ku. Lalu temanku itu pun menjawab: ”itu kan DIA, anak baru yang masuk bulan November kemarin, dia senior satu” jawab temanku saat itu. ”hoooooo, udah dari November kemarin toh masuknya, kok aku gak pernah lihat dia yah??” kata ku menyambung jawaban teman ku tadi, ”ya iya lah dia kan pas baru masuk langsung ke Bandung, terus kita juga waktu itu udah di klien, dan baru sekarang-sekarang ini ke kantor” kata temanku, ”hooooooooooo, iya iya aku ngerti” kata ku menyudahi pembicaraan dengan teman ku malam itu, karena kami harus segera ke ruang operator untuk update beberapa report.

Karena pada waktu itu aku dan teman2ku di dalam tim audit sudah pull out (keluar dari klien), maka kami mulai ke kantor setiap hari, dan DIA pun tampaknya juga sudah pull out, jadilah aku bertemu dengan DIA setiap hari. Tapi pada waktu itu aku belum begitu kenal dengannya, baru sebatas menyapa sebagai sapaan etika karena kita sama-sama satu kantor. Dalam penilaianku yang sangat terbatas pada waktu itu aku fikir dia tuh seorang ”ikhwan”. Dan satu alasan kenapa saat itu aku menilai dia ”ikhwan” simple aja sih, karena ku lihat dia ada jenggot nya ha ha ha..konyol juga kedengarannya masak liat orang dari tampilan fisik, ada ada aja, yah mungkin juga masih terbawa-bawa cara pandang dari kampus dulu, para ikhwan kan pasti memelihara jenggot tapi tak berkumis he he he, terus celana nya pasti ngatung (di atas tumit) dan akan sangat menghindari memakai celana jeans (aku enggak tahu kenapa alasannya), yah ini hanya sebatas penilaian sempit dari luar aja kok, abis sebagian besar (tidak semua) ikhwan kampus berpenampilan seperti itu, jadilah itu seperti simbol untuk membedakan antara ikhwan dan yang bukan ikhwan, simple kan he he...

Sebenarnya secara bahasa ikhwan itu berarti saudara laki-laki, tetapi di kalangan aktivis kampus pada waktu aku kuliah dulu ”ikhwan” itu bisa juga merefer ke seorang laki-laki yang sedang belajar mendalami ilmu agama dan kemudian mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, atau dengan kata lain seorang laki-laki yang sedikit banyak lebih paham tentang agama dibandingkan dengan kaum laki-laki pada umumnya. Nah karena mereka sedikit banyak lebih paham tentang agama dan sunah-sunah rasul, maka sebagian besar dari mereka berusaha berpenampilan (tampilan fisiknya) sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah, seperti memelihara jenggot salah satu nya, celana panjangnya ngatung (tidak melebihi tumit) dan pasti akan sangat menghindari memakai celanan jeans (mungkin sebenarnya menghindari memakai celana yg memperlihatkan bentuk tubuh kali yaa, mohon kasih ilmunya doonk bagi sahabat2 yang tahu, makasiih).

Dan sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya mungkin, tetapi yang aku tahu hanya sebatas itu. Di samping juga tentunya sunah-sunah Rasul dari segi keyakinan dan prinsip seperti selalu menjaga shalat lima waktu dan mengusahakan untuk shalat di masjid (jika memungkinkan), puasa sunah senin-kemis, sangat menjaga pandangan ketika sedang berkomunikasi dengan lawan jenis, tidak berdiri ketika makan dan minum, senantiasa mengucapkan salam ketika bertemu sesama saudara muslim, dan akhlaq mulia Nabi yang lainnya.

Nah kembali lagi ke DIA sebagai tokoh utama pada tulisan kali ini:). Menurutku pada awalnya dia adalah seorang ikhwan karena satu alasan konyol yang tadi sudah aku sebutkan, namun itu tidak berlangsung lama, karena semakin hari penilaian awalku tentang nya semakin menguap, entahlah. Tapi hati kecil ku bilang bahwa dia adalah lelaki baik-baik, terlepas dari tampilan luar maupun aksesoris lainnya. Karena aku mencoba untuk selalu menilai seseorang lebih ke sikapnya, bukan lagi ke arah yang bersifat tampilan fisik yang terkadang menipu mata. Meski memang ada satu sikapnya yang aku anggap aneh di awal perkenalanku dengannya, yaitu sikapnya yang suka iseng dan jarang banget serius.

Mungkin bagi orang yang baru mengenal DIA seperti aku pada saat itu agak sedikit aneh menilai dirinya. Tetapi lama kelamaan aku jadi paham bahwa gaya dan pembawaan dia memang seperti itu, aku berfikir mungkin seperti itulah cara dan gaya dia dalam bergaul dan bersahabat dengan orang-orang di sekeliling dia. Yah setiap orang memang memiliki caranya sendiri dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Dan pada akhirnya aku bisa memahami sikap dan pembawaan DIA yang seperti itu, maksudku sudah tidak menganggap dia sebagai sosok yang aneh lagi:).

Hari berganti, minggu berlalu, dan sempat beberapa lamanya kami selalu duduk bersebelahan ketika berada di kantor. Semakin lama aku semakin tahu kebiasaannya ketika berada di kantor, mulai dari pagi-pagi datang ke kantor pasti dia langsung menyapa beberapa orang teman dengan kalimat yang sama setiap hari nya yaitu: ”ada masalah kawan?, kalau ada masalah tinggal bilang aja ke gue, semua akan gue tampung” he he he begitulah sapaan dia kepada teman-teman sekantor. Setelah itu dia keluar ruangan sebentar, lalu masuk lagi dengan membawa gelas berisi air putih (sepanjang pengamatanku sepertinya DIA jarang banget deh minum air teh), lalu setelah itu dia pun mulai bekerja.

Jika hari itu beban pekerjaan tidak terlalu berat (kurang dari 1 ton he he), maka dia akan selalu mengajak aku mengobrol hal-hal yang ringan, pastinya selalu diiringi dengan candaannya yang khas. Terkadang aku balas menanggapi candaannya itu, namun di lain waktu terkadang aku hanya diam, dan ternyata diamnya aku membuat dia risih, dia bilang aku sombong lah, lagi sakit lah, lagi laper lah, dan aku hanya jawab: ”lagi males ngomong aja kok”, lalu dia pun akan diam :). Namun ketika dia sedang ada pekerjaan yang agak berat (lebih dari 1 ton :)), maka dia pun akan serius menyelesaikan pekerjaannya itu tanpa menoleh ke kanan atau kiri, dan sikapnya yang seperti itu kadang membuatku takut untuk bertanya atau mengganggunya.

Jika beban pekerjannya sudah tidak mencapai 1 ton lagi, maka dia pun akan mulai melakukan rutinitas ”keisengannya” dengan bertanya hal-hal yang gak jelas ke teman-teman, seperti menanyakan: ”kenapa kancil suka mencuri ketimun ya?” (sampai sampai di kantor dia dipanggil Si Kancil karena keseringan berujar tentang kancil he he), atau di lain waktu dia juga akan bertanya: ”weton mu apa nduk?” serta pertanyan2 iseng lainnya, dan akan ditanggapi oleh teman-teman di kantor dengan hal-hal yang gak jelas pula, he he he aku baru sadar rupanya di kantor ini penuh dengan berbagai hal yang serba tidak jelas:). Yah mungkin para auditor sedang stress memikirkan report yang tak kunjung selesai, sementara kita terus dikejar deadline, ya begitu deh jadinya he he.:D

Bersambung...

4 comments:

  1. aku baca dengan seyum khasku de kau menulisnya dengan khas gaya Akhwat. de ada masalah ga dikerjaan .Sabar aja ya. tetap bertahan di situ dulu.De tampilan memang tak bisa mendetailkan kepribadian ada banyak hal yang belum terungkap setiap manusia. Tidak semua laki2 menjalani kehidupan dikantor dengan keluguaanya atau keasliannya. banyak cerita dari sumber dipercaya walau tak semua laki2. Laki2 kalau sudah diluar kantor baru keliatan keasliannya. dan berhati-hati dalam menilai seseorang. tapi tetap berbaik sangka

    ReplyDelete
  2. jreng jreng jreng...
    "pandangan pertama, awal aku berjumpa.."
    -slank

    *ya Allah, susah banget commentnya.. slalu muncul ""your openID credentials could not be verified..*

    ReplyDelete
  3. @kawanlama95
    Hmm,aku menulis ini dengan senyum khas ku kak:), kakak membacanya dengan khas gaya ikhwan, hehehe...
    Duh pertanyaannya mengingatkan ku pada DIA, "ada masalah gak":) Yah sebenarnya jadi auditor tuh gak enaknya karena jam kerjanya aja sih yang gak normal, benar2 enggak bisa diprediksi deh, tapi kalau untuk belajar sebenarnya bagus banget!

    Duh serem juga yah, tapi masak sih kak seperti itu? masak iya kepribadian di rumah beda dg di kantor?. Yah aku selalu coba untuk positif thinking kepada siapa pun...
    Terima kasih kak...

    @Hafid Algristian
    Jreng jreng jreng...
    "pandangan pertama" dari Slank, lagu kesukaan ku tuh Fid, kok tahu aja sih dirimu he he:)

    Iya, mungkin lagi error Fid, karena biasanya nda ada masalah kok...Yah asal jangan kapok aja yah buat berkunjung ke sini:)
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. is speedily Links london Chainsapproaching and men across the earth will start stress out about it. links of london sweetie bracelet Choosing a Valentine's Gift can be somewhat grueling, friendship bracelets especially if she and you are entirely close and all you want to do is dash her sympathy during this unusual reason. links of london uk All you necessity is some planning, the little thoughts, and a whole lot of honey. links of london silver If you are mystified for an idea for the Valentines Day gift now then why not ponder a discount links of london section of .Links Of London Bracelet is the classic and thoughtful gift to believe, links of london bracelet sale however, this is regularly above people's budgets. When selecting cheap links of london bracelet Bracelet get something that she will like, attire and show off to her links. links of london bracelet uk If she never wears jewels then bountiful her a wristlet is a very discount links of london bracelets risky and inadvisable gift.

    ReplyDelete

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin