Saturday, December 05, 2009

Tiga Orang Saudara Mengunjungi Jakarta.

Di suatu pagi ketika saya sedang berada di dalam bis hendak menuju rumah kedua, kantor maksudnya:), saya melihat sebuah pemandangan yak tak biasa ketika bis sedang bergerak perlahan-lahan di sekitar jalan Medan Merdeka dan hendak memasuki Jalan Thamrin Jakarta. Persis di persimpangan di depan gedung Kebudayaan dan Pariwisata, saya melihat sebagian besar orang di jalanan sedang mengarahkan pandangan mereka ke satu arah tertentu (duh! Jadi ingat satu lagu jadul nih, apa yaaa? hehe:)). Mulai dari pak Polisi yang sedang bertugas, para pengendara motor dan mobil yang sedang berhenti di depan lampu merah sampai kepada para penumpang bis yang sedang saya tumpangi pun semuanya tengah memandang ke arah itu. Mungkin ada yang bertanya memang ada apa siiiy???, apakah ada presiden Obama sedang jalan di situ sendirian? *gak mungkiiin*, atau ada SBY dan JK yang sedang lari pagi?? *sambil reuni mengenang masa lalu gitcu*, atauuu jangan-jangan ada Mbah Surip yang lagi konser nyanyi hiiiiiiiiiiiii sereeeeeemmm.

Sebuah pemandangan yang tak biasa memang di pagi itu, mungkin bukan buat saya saja tetapi juga buat semua orang yang berkesempatan menyaksikan pemandangan itu. Saat itu saya melihat ada tiga orang laki-laki (saya menyebut tiga orang itu dengan ”saudara kita”) yang sedang mengunjungi rimba Jakarta. Mungkin sebagian besar kita memandang aneh terhadap saudara kita itu, tetapi buat saya mereka adalah cerminan ”kesederhanaan” dan ”kepolosan” dari makhluk yg bernama manusia. Yaitu manusia-manusia yang belum tersentuh oleh kemajuan dan kebudayaan (sebenarnya mungkin mereka mau saja disentuh kalau ada kesungguhan dari kita untuk menyentuh mereka). Meski sebenarnya ”kesederhanaan” yang mereka pertahankan itu (menurut saya) bukan pada tempatnya.

Tiga orang saudara kita itu berasal dari perkampungan Badui sana, maaf ini hanya berdasarkan asumsi saya pribadi dari aksesoris yang tampak yang saat itu mereka gunakan, dan mudah-mudahan tidak salah. Tapi yang pasti tiga orang tersebut jelas bukan penduduk Jakarta. Mengapa saya menganggap bahwa tiga orang saudara kita itu adalah orang-orang dari perkampungan Badui?. Pertama, karena mereka menggunakan tutup kepala (sapu tangan yang diikatkan di kepala) berwarna hitam. Kedua, pakaian yang mereka kenakan pun serba hitam, rok berwarna putih kumal, serta tidak menggunakan alas kaki. Ketiga, mereka juga menyandang buntelan yang berwarna putih kumal. Ketika SMA dulu saya pernah mengunjungi perkampungan Badui Dalam, dan keseharian mereka dalam berpakaian yah seperti itulah.

Pada kejadian yang saya lihat waktu itu, tiga orang saudara kita tersebut sedang bercakap-cakap dengan seorang pejalan kaki. Mungkin mereka sedang bertanya tentang sebuah alamat atau mungkin yang lainnya, jelas saya tidak tahu sama sekali. Namun kelihatan sekali mereka sedang mencari sesuatu di Jakarta ini. Melihat tiga orang saudara itu saya jadi terfikir, mengapa ya mereka masih bertahan dan nyaman dengan kondisi ”kesederhanaan” yang seperti itu. Kalau boleh saya menyebut sebuah kesederhanaan berbalutkan keterbelakangan (maaf kalau kurang tepat istilahnya). Bukankah dalam ”kesederhanaan” yang mereka yakini itu menyebabkan mereka jauh tertinggal dibandingkan orang-orang yang dengan mudah menerima perubahan dan perkembanan zaman. Setiap saat segalanya berubah dengan sangat cepat dan kian tak terbendung, apalagi di zaman yang serba canggih di atas dunia yang sudah seperti tak berbatas ini. Saya fikir ”kesederhanaan” mereka itu justru merugikan diri mereka sendiri.

Itu kalau saya melihat dari sisi mereka sebagai manusia yang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dalam hidup ini. Tetapi kemudian kalau saya coba memandang dari sudut pandang di luar diri dan masyarakat saudara kita itu, saya jadi terfikir, sebenarnya mereka yang tidak mau disentuh oleh kemajuan teknologi dan peradaban, atau justru kita-kita ini yang tidak mau bersungguh-sungguh menyentuh mereka untuk sama-sama ikut berubah (dalam arti positif) mengikuti perkembangan peradaban manusia yang kian pesat??. Bahkan kalau saya melihat kok ya mereka seperti cenderung dipertahankan untuk kepentingan tertentu. *ah suudzon nih Rita*, yah mudah-mudahan saya salah.

Bagaimana menurut sahabat?, kira-kira usaha apa yang bisa kita lakukan untuk saudara-saudara kita itu agar mereka juga bisa merasakan kemajuan peradaban manusia ini tanpa merasa terpaksa?. Mungkin ada yang pernah berkunjung ke perkampungan Badui Dalam atau tempat-tempat lain yang hampir sama kondisinya???. Mari berbagi cerita di sini, insyaALLAH akan ada manfaat yang bisa dipetik tentunya.


Read More..

Wednesday, December 02, 2009

CAKRAWALA BIRU

Di cakrawala biru berpadu sudah rasa itu.
Kau sapa hatiku dengan untaian kata yg syahdu..
Kusambut katamu dengan senandung keikhlasan…
Dan kusampaikan pesan cintaku lewat puisi keindahan….

Di cakrawala hati telah terukir indah namamu.
Berhiaskan awan diiringi alunan sang bayu..
Kulukis bayangmu di atas kanvas kehidupan…
Dan kusematkan harapan pada angin kerinduan.…

Di cakrawala kalbu kusemai benih kesabaran.
Berbalut asa bermandikan mata air impian..
Kuharap kau datang ke dermaga CINTA…
Dan kayuh biduk kita menuju nirwana….

Dimana gerangan duhai kasih pujaan.
Kutunggu engkau di cakrawala kenyataan..
Kita rajut ASA dengan kasih ARRAHMAN…
Dan keberkahan smoga hadir di sisa perjalanan….
=============================================

By:risantchan di cakrawala penantian.
Kupersembahkan tuk seseorang yang merasa tenteram baca puisi..
Maafkan bila puisi ini tak mampu menyembuhkan hatimu yang lelah...
itsumo ganbatte ne!:)


Read More..

Friday, November 27, 2009

Buruan Nikah! Biar Hatimu Tenteram...

Itu adalah sepenggal kata dari seorang teman ketika tadi pagi kami sempat chat via YM, setelah saya bertanya padanya apa yang berbeda dari dirinya sekarang ketika dia telah memiliki seorang ”pangeran” dalam hidupnya. Temanku itu baru melangsungkan pernikahan sekitar seminggu yang lalu. Kemudian dengan lancarnya mengalirlah cerita dari dia tentang segala hal yang dirasa, yang pada intinya bahwa menikah menjadikan hatinya menjadi lebih tenang dan tenteram, meskipun yang namanya riak-riak kecil itu akan selalu ada, apalagi pada masa awal-awal pernikahan katanya.

Dan di tengah-tengah cerita itu ujung-ujungnya dia mengeluarkan kata-kata yang cukup provokatif menurut saya, ya seperti judul di atas itulah. Lalu saya jawab: ”bukannya aku tidak ingin segera menikah mba, tapi masalahnya sama siapa???”, jawabku menimpali kata-katanya. ”Kemarin ketika aku pulang ke Riau, ada siih yang serius ingin melamar, tapi aku gak bisa melangkah bila belum ada keyakinan dalam hati” lanjutku dengan penuh keseriusan. Dan mba itu pun kemudian menjawab yang pada intinya adalah bahwa kesiapan dan keyakinan hati itu sebenarnya adalah sebuah proses, kita tidak akan bisa langsung merasakan bahwa kita yakin secara penuh terhadap sebuah keputusan atau pilihan. Nah sekarang kamu mau tidak menjalani dengan sabar proses itu sampai kamu bisa merasakan bahwa hatimu berada pada tingkat keyakinan yang penuh untuk melangkah. ”Jadi jalani aja dulu prosesnya” tambah temanku itu dengan tidak kalah seriusnya.

Ah aku tak tahu apakah memang benar seperti itu dalam kenyataannya atau tidak, karena aku adalah tipe orang yang benar-benar tidak bisa berjalan ketika masih ada ganjalan di dalam hati, sekecil apapun itu. Sehingga terkesan sekali kalau aku ini tipe orang yang sangat konservatif dalam mengambil sebuah keputusan, ”alon-alon asal kelakon” kalau kata orang Jowo sih *semoga istilah bahasa Jawanya tidak salah*.

Jangankan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius seperti pernikahan, bahkan ketika ada yang sekedar ingin ”berkenalan” pun, kalau kesan pertama di hatiku tidak sreg dan yakin, maka aku akan memilih untuk menghindar daripada nanti malah menyakiti hati seseorang tersebut. Meski sebenarnya pada tahap awal tersebut aku pun belum bisa memastikan bahwa dia tidak baik buatku. Tapi karena aku adalah tipe orang yang sangat percaya pada kata hati, sehingga bila hati belum bilang ”Ya!”, maka aku pun belum akan berani untuk melangkah. Dan itulah aku. Tentunya pasti ada sisi positif dan negatif dari sikap yang seperti itu, namun yang pasti buat aku melangkah dalam kondisi hati mantap dan yakin itu adalah sebuah kemestian, karena pernah beberapa kali aku mencoba paksakan untuk melangkah dalam keraguan, dan hasilnya sangat mengecewakan!.

Kembali pada kata-kata provokatif temanku itu, aku jadi teringat pada seorang teman yang pernah bilang: ”menikah membuat hidup kita menjadi lebih terarah dan teratur mba”, katanya suatu hari. Memang benar seperti itu adanya mungkin, karena toh aku sendiri belum merasakannya secara langsung. Namun dari yang aku lihat pada sikap adikku yang baru menikah beberapa bulan yang lalu, aku benar-benar melihat perubahan itu pada dirinya. Dulu ketika masih bujang, setiap malam pasti selalu keluar rumah dan pulang ketika sudah larut dan paginya sudah menghilang lagi entah kemana. Namun kemarin ketika aku pulang kampung, dan melihat dia setiap malam kok selalu ada di rumah yah, dan kalau pun pergi itu pasti bersama istrinya. Hmmm, bener-bener bikin iri aja tuh anak hehehe...

Tapi aku sangat percaya kalau menikah itu bisa membuat hati menjadi lebih tenteram, karena ALLAH sendiri kan yang mengatakan bahwa Dia menciptakan manusia itu berpasang-pasangan untuk saling memberikan rasa tenteram di hati masing-masing. Dan saat ini hidupku memang seperti sedang berjalan di tempat, sering merasa sepi dan jenuh. Bahkan sering juga terserang penyakit disorientasi hidup. Hmm, apa mungkin karena belum menikah yaa?, maybe yes! maybe No! :).

Ayo bapak-bapak, ibu-ibu yang sudah menikah, berbagilah dengan kami-kami yang masih sendiri tentang bagaimana perubahan yang terjadi pada diri kalian ketika telah menikah, agar kami tercerahkan dan bisa segera menyusul kalian, meski sekarang sebenarnya belum jelas juga sih mau menikah dengan siapa hehehehe...Tapi yang pasti kalau kata Bundo NakjaDimande ”saat ini dia sedang berjalan ke arahmu Rit”, InsyaALLAH...*sambil nebak-nebak siapa yah kira-kira yang sekarang sedang berjalan ke arah ku, habis yang ditunggu-tunggu tak jua kunjung datang:)*.


Read More..

Friday, November 13, 2009

Garis Batas

Bagaimana aku bertemu dengan Mu
Menjadi sungai tak sampai-sampai
Meski muara begitu dekat…

Bagaimana aku melukis wajah Mu
Imajinasi berhenti pada cat-cat
Meski warna begitu lengkap…

By: ???

===============================================================================

PS 1:
Puisi di atas aku temukan pada saat awal-awal aku masuk kuliah dulu. Waktu itu aku membaca puisi itu di salah satu media massa. Karena langsung jatuh cinta saat pertama kali membacanya, maka langsung aku catat deh di buku agendaku. Tapi sangat disayangkan aku lupa menyertakan nama penulisnya (emang dodol nih aku, gak tahu berterima kasih. Suka sama puisinya eh tapi enggak peduli sama yang menciptakannya). Maaf beribu maaf untuk seseorang yang telah menulis puisi ini. Mungkin di antara sahabat ada yg pernah membaca puisi ini dan tahu siapa pengarangnya, mohon sharing di sini yah…(Masalahnya aku tidak pernah membaca buku kumpulan puisi, makanya ketinggalan banget nih informasi tentang puisi).

PS 2:
Puisi di atas adalah salah satu puisi yang paling aku suka, alasannya selain memang karena maknanya yang sangat dalam, juga karena puisi itu mampu menjawab pertanyaanku dulu sewaktu masih di SD dan SMP. Dulu aku sering sekali bertanya seperti ini: “bentuk ALLAH itu seperti apa yah???”, “penasaran deh pengen liat wajah ALLAH kayak gimana”, “terus tempat bersemayamnya ALLAH tuh sebesar apa ??”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Karena pertanyaan-pertanyaan itu, aku jadi sering sekali memandangi langit sambil membayangkan dan mencoba menerka-nerka (dalam dimensi imajinasiku yang sangat bodoh tentunya) tentang wajah ALLAH, terus bentuknya menyerupai apa. Terus kadang juga suka bertanya ada gak yah alam semesta selain di jagad raya ini. Terus juga suka berfikir ALLAH tuh datangnya dari mana dan sejak kapan adanya. Duh pokoknya pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya membuat aku pusing sendiri deh. Sebenarnya beberapa dari pertanyaan itu jawabannya ada di Sifat-Sifat ALLAH, tapi kan waktu SD aku gak begitu terampil (sekarang juga masih seperti itu sih:)) menyambungkan antara pelajaran-pelajaran di sekolah dengan kondisi di kehidupan nyata.

Pada waktu awal-awal aku kuliah terus ketemu dengan puisi di atas, saat itu fikiranku benar-benar tercerahkan, bahwa sebagai makhluk kita tidak akan pernah bisa membayangkan keberadaan fisik ALLAH seperti apa meski sebenarnya DIA sangat dekat. Fikiran manusia tidak akan pernah sampai ke sana, karena ada garis yang membatasi antara dimensi kita dengan dimensi ALLAH, DIA sang PENCIPTA dan PENGUASA alam semesta raya, sementara kita hanyalah makhluk kecil yang lemah dan tak berdaya.

PS3:
Alhamdulillah akhirnya bisa update juga, setelah 10 hari lamanya blog ini terabaikan. Rekor terpanjang nih meninggalkan blog sejak pertama kali ia lahir ke jagad raya ini hihihi lebay. Tapi ini baru awal sahabat, ke depannya mungkin blog ini akan jauh lebih terbengkalai dan merana lagi. Yah maklumlah pengurusnya sudah mulai berkelana kesana-kemari, dan ketika larut malam saat sampai di kosan lelahnya raga ini tak lagi mampu tuk sekedar melihat-lihat blog, apalagi untuk update (maklum cu! nenek sudah tua, jadi tubuh ini cepat sekali merasa lelah hehehe). Meski sebenarnya sediiih banget harus mengabaikan rumah mayaku ini. Tapi itulah hidup, setiap musim akan selalu berganti. Mudah-mudahan di setiap akhir minggu jika tidak lembur kata-kata sederhana dari aku bisa bersenandung lagi:). Dan mohon maaf untuk sahabat-sahabat yang telah berkunjung mungkin tidak selalu bisa aku balas kunjungannya. Mohon maklum yaaa…Honto ni arigatou ne:).


Read More..

Wednesday, November 04, 2009

Genuine Smile :)


Sesuatu yang murni yang datang dari hati, maka akan diterima oleh hati pula. Dan satu bentuk dari hal tersebut adalah senyuman:). Betapa dahsyatnya sebuah senyuman yg terlahir dari kedalaman telaga hati, yang mampu mengalirkan air kesejukan, meniupkan angin kedamaian, serta menyemaikan benih-benih CINTA yang bersifat universal yang kemudian akan langsung masuk menghunjam ke dermaga HATI.

Sahabat...pernahkah kita bertanya pada diri ini ketika kita tersenyum kepada keluarga, saudara, teman, rekan kerja, atau siapapun yang kita temui di dalam keseharian hidup kita. Ketika mulut ini menyunggingkan seulas senyuman kepada mereka, apakah itu benar-benar murni berasal dari HATI???. Ataukah senyuman itu hanya sekedar basa-basi?, hanya syarat atau sebagai pelengkap etika pertemanan atau supaya tidak dibilang sombong?, atau mungkin agar mereka nanti juga akan memberikan senyuman balik pada kita ketika bertemu lagi dengan mereka di lain waktu dan kesempatan?. Entahlah, tentunya hanya hati kita masing-masing lah yang tahu jawabannya.

Genuine Smile tidak mengharapkan apapun, karena ia terlahir dari telaga hati yang hanya ingin mengalirkan dan mempersembahkan kesejukan dan kedamaian bagi dunia. Dan karena SENYUMAN itu adalah ibadah.

Let’s give our smile which is from the bottom of our heart as the sweetest gift for our friends, that’s the genuine smile:).


Read More..

Friday, October 30, 2009

30 Menit Bersama Nenek, Ditemani Bintang & Rembulan...

Malam itu, waktu telah menunjukkan pukul 9 kurang 15 menit, it’s time to go home!. Nah karena jarak kosan saya dengan tempat kursus tidak terlalu jauh, maka saya lebih memilih berjalan kaki daripada harus naik ojek, lumayan kan selain mendukung program kesehatan tubuh juga bisa sedikit berhemat untuk kesehatan kantong. Yah begitulah anak kos, kalau masalah berhemat tuh sepertinya memang keharusan deh, bukan satu kesadaran:).

Seperti biasanya, kalau berjalan di malam hari maka saya akan sangat menikmati perjalanan itu, sehingga saya pun berjalan dengan sangat santainya sambil merasakan hembusan sepoi angin malam dan mengamati lalu lalang orang dan kendaraan yang sudah mulai sepi. Sesekali saya pun akan berhenti dan memandang serta menikmati keindahan langit malam dari kejauhan. Namun sayang seribu kali sayang pesona langit malam di Jakarta tak seindah langit malam di kampung saya, di Kuantan sana. Tetapi dimanapun itu, pesona langit malam buatku tetap takkan pernah bisa habis untuk disyukuri. Dan itulah salah satu wujud karya cipta nan agung dari sang PEMILIK jagad raya ini.

Meski sebenarnya angin malam jalanan kurang begitu sehat, tapi entah kenapa saya sangat menikmatinya. Berada di samping kekasih hati membuat suasana semakin romantis, berjalan berdampingan bermandikan kemilau cahya lampu berwarna kuning keemasan, ditambah dengan hangatnya sinar rembulan yang melengkapi pancaran cahya bintang yang tak pernah berhenti bersinar. ”Eiit stop!!!” kata hatiku, seketika aku clingak-clinguk ke samping kanan dan kiri, eeeh ternyata enggak ada orang ding!, hoooo jadi barusan tuh lagi ngayal toh hihihihi, jadi malu!:). ”Tidak mengapa bila tak ada kekasih hati, kan ada Kekasih Sejati yang selalu setia menemani, yakinlah itu Ta”, kata hatiku memberikan wejangan.

Dan tidak lama setelah itu, dari jarak yg tidak begitu jauh aku melihat di depanku ada seorang wanita yang juga sedang berjalan sambil menggendong sebuah karung yg berukuran besar, yang aku perkirakan isinya adalah sampah-sampah plastik. Tapi ukuran karung yg begitu besar tersebut terlihat melebihi dari besarnya ukuran tubuh wanita itu, sampai-sampai dia harus membungkuk ketika berjalan untuk mengimbangi beratnya beban karung tersebut. ”sungguh wanita yang kuat” kataku berguman. Lalu tanpa membuang waktu, langsung saja aku kejar dan hampiri wanita itu.

”Ibu, pulangnya kemana?”, tanyaku sambil mengiringi langka-langkah kakinya. ”Nenek pulang ke Pedongkelan sana Cu’”, jawabnya dan kemudian menghentikan langkahnya. Lalu kami pun sedikit menepi, lebih merapat ke sisi trotoar jalan, agar aman dari lalu lintas kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Masih dengan posisi berdiri aku kemudian lanjut bertanya: ”kenapa malam-malam begini masih berjalan mencari sampah-sampah ini Nek?, memang dari jam berapa nenek mulai mengumpulkan ini semua”, kataku sambil sedikit nyerocos. ”Iya, memang setiap hari nenek selalu pulang jam segini Cu, karena nenek kan mulai keluarnya siang menjelang sore hari, dan baru pulang ya jam segini ini” katanya sambil membetulkan letak karung sampah yang segede gaban itu. Duh terus terang aku tidak tega melihat nenek itu, tapi apa yah yang bisa aku lakukan buat nya *sambil sedikit mikir*.

Seketika tanpa aku duga dan aku minta nenek itu langsung bercerita tentang diri dan keluarganya dengan penuh semangat, masih terus sambil berdiri menggendong karung sampah itu. Nampaknya dia ingin bercerita banyak kepadaku, ”baiklah, mungkin ini adalah salah satu yang bisa aku berikan buat nenek itu, memberikan sedikit waktuku untuk mendengarkan ceritanya”, kata ku di dalam hati. Sebelum dia bercerita sebenarnya aku ingin memintanya untuk meletakkan dulu karung itu, supaya ngobrolnya lebih enak. Tapi melihat nenek sudah begitu bersemangatnya ingin bercerita, aku urungkan niatku karena tak ingin memotong ceritanya. Dan jadilah malam itu aku mendengarkan cerita nenek sambil berdiri di pinggir jalan di sekitaran Cempaka Mas. Latarnya memang masih di Simpang Coca Cola juga nih, ya iyalah! kan aku sudah dinobatkan menjadi ketua preman di situ sekarang:D.

Lalu aku pun mulai mendengarkan cerita nenek dengan seksama sambil terus memandangi wajahnya yang telah keriput dimakan usia. Di tengah lalu lalang orang di jalanan itu nenek terus bercerita tentang anaknya yang semata wayang yang sudah tidak peduli lagi dengan kondisi hidupnya, anaknya justru lebih sering bersikap kasar dan melawan kepada orang tua. Nenek sudah sekian tahun ditinggal oleh sang suami, dan saat ini nenek hanya tinggal bersama seorang cucu di daerah kumuh di pinggiran Ibukota.

Sebenarnya tidak banyak yang nenek harapkan dari anaknya, beliau hanya berharap bahwa anak itu ”mengakui” keberadaan dirinya yang telah melahirkannya dengan susah payah. Bahkan sampai ada yang bilang bahwa anak yg telah dilahirkannya itu adalah seorang anak angkat karena sama sekali tak mau ambil peduli dengan keadaan ibunya sendiri. Tapi nenek itu sama sekali tidak mau merepotkan anaknya, makanya beliau masih terus berusaha apapun yang masih bisa dikerjakan. Saat ini yang masih kuat dikerjakan oleh nenek adalah mengumpulkan sampah-sampah plastik, koran, kardus dan sejenisnya yang selanjutnya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut cerita nenek juga kalau dulu mungkin nenek masih ada pekerjaan tambahan lain yaitu menjadi buruh cuci, tetapi sekarang nenek sudah tidak mampu lagi katanya.

Nenek yakin bahwa selagi kita mau berusaha, apapun itu asalkan halal maka jangan pernah takut kelaparan. Karena nenek percaya ALLAH itu maha Pemurah, dan ALLAH tidak akan membiarkan hambaNYA dalam kesendirian. Nenek juga mengatakan bagaimana pun tidak pedulinya anak yg telah dilahirkan itu kepada dirinya, namun ia masih terus mendoakan anaknya, agar selalu bahagia di dunia ini dan bisa selamat di akhirat kelak. Hanya itu setiap hari yang nenek mintakan kepada Sang Gusti ALLAH, katanya. Meskipun nenek hanya orang kecil, tapi DIA yang maha mendengar dan tak pernah tidur tidak akan pilih kasih kepada hamba NYA. Siapa yang mau berusaha maka ALLAH lah yang akan memudahkan jalannya. Dan Nenek selalu yakin akan hal itu, lanjutnya sambil memandang wajahku dan kemudian berucap: ”nama cucu siapa?” katanya, ”Nenek panggil saja aku Rita” kataku menjawab pertanyaan nenek.

Kelihatannya Nenek sudah sangat lelah, dan tak terasa rupanya sudah 30 menit aku berdiri bersama Nenek di pinggir jalan itu. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam, lalu aku pun mohon pamit kepada Nenek karena sudah cukup larut rupanya, aku harus segera meninggalkan tempat itu sebab sudah semakin menyeramkan buatku *aneh!! ketua preman kok ternyata penakut juga yak:)*. Lalu kami pun berpisah di persimpangan Coca Cola itu.

Sambil berjalan seorang diri diantara lalu-lalang kendaraan dan anak-anak jalanan, aku masih terus teringat nenek. Betapa setiap manusia itu pasti memiliki kisah dan cerita hidupnya masing-masing, dan setiap kisah itu telah tertulis di dalam sebuah kitab di Lauhil Mahfud sana. Hanya saja yang membedakan antara satu cerita hidup manusia dengan manusia lainnya adalah sejauh mana setiap diri mampu berjuang dan mengusahakan yang terbaik untuk kelangsungan hidupnya. Dan setiap manusia mempunyai semangat juang yang berbeda-beda tentunya, tapi satu hal yang pasti adalah siapa yang bersungguh-sungguh maka insyaALLAH dia lah yang akan mendapatkan keberhasilan. Dan apapun hasil yg kita peroleh, itu merupakan kondisi terbaik untuk kita dalam pandangan ALLAH.

Malam itu, bisa mendengarkan sekilas tentang cerita seorang nenek yang hidup di tengah belantara kota metropolitan merupakan sebuah anugerah buat diriku. Aku sadar dengan sepenuhnya bahwa ALLAH lah yang telah menakdirkan pertemuanku dengan nenek di tempat itu, di jam segitu dan dengan latar suasana yang seperti itu. Mari sahabat kita berikan sedikit waktu kita untuk mendengarkan cerita dan keluh kesah ”mereka”. Selama ini kita mungkin hanya memandang dan membicarakan mereka dari kejauhan, jarang mencoba untuk mendekat dan menyelami hati mereka, mencoba merasakan apa yang sedang mereka rasa dan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Walaupun tak banyak memang yang bisa aku berikan kepada Nenek, bahkan mungkin teramat sedikit, yah hanya 30 menit dari waktuku. Tetapi setidaknya dengan aku mau mendengarkan cerita nenek, mudah-mudahan bisa sedikit mengurangi dan meringankan beban bathinnya. Sehingga ia bisa melangkah dengan hati yang juga mudah-mudahan lebih ringan serta dengan senyuman tentunya, amiin dan semoga ya Rabb.


Read More..

Friday, October 23, 2009

Cinderamata dari Sahabat


Sejak jam 3 pagi tadi ada masalah yang cukup serius dengan perut saya, sehingga harus bolak balik ke kamar kecil. Jadi hari Jumat ini akhirnya saya putuskan untuk tidak masuk kantor saja, daripada nanti saya tidak bisa menahan ”tuntutan” dari dalam tubuh untuk segera keluar, yah lebih baik saya di rumah saja deh. Lagian di kantor pun pekerjaan sedang tidak padat, karena belum mulai masuk klien.

Siang harinya ketika saya baru saja balik dari kamar kecil, ada seorang petugas kurir memanggil dan mengetuk-ngetuk pintu pagar, lalu saya hampiri petugas tersebut. Dan memang tepat sekali ternyata pak kurir tersebut mencari nama saya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ketika saya lihat, wah ini kiriman dari Pak guskar rupanya, sebuah buku yang sedang saya nanti-nantikan!. Dan saya amati bungkus nya persis sekali dengan gambar yg kemarin dipasang pak gus pada postingan Lastri Jatuh Cinta # 2. Saya pandangi lekat-lekat bungkusan tersebut. ”Hmm, pekerjaan tangan mba Lastri nih memang rapi yah” kataku dalam hati. Rasanya sayang sekali kalau sampul ini di buka, makanya saya urungkan niat saya untuk membukanya, karena masih ingin terus melihat bungkusan itu sampai puas:).

Setelah hampir 1 jam lebih saya puas memandangi bungkusan tersebut, akhirnya saya putuskan untuk kemudian membukanya. Dan jreng jreng jreng!!!, tampaklah cover sebuah Novel berjudul Negeri 5 Menara karangan A Fuadi. Di sebelah atas judul tersebut ada sebuah tulisan yg ditulis pada potongan kertas berwarna putih yang berbunyi: ”Cinderamata Kenduri Narablog 2009 Jilid 2 guskar.com”. Lalu saya lepaskan potongan kertas tersebut, dan langsung saya tempelkan kembali di halaman kedua setelah halaman cover, dan kemudian saya tuliskan di bawah tulisan tersebut tanggal saya menerimanya yaitu tanggal 23 Oktober 2009.

Sejak pertama kali saya melihat cover novel itu pada postingan Pak Guskar yang berjudul Woro-Woro, saya telah jatuh cinta pada judul novel tersebut. Waktu itu saya berucap: ”Ya ALLAH aku ingin sekali novel itu”, kata saya dalam hati sambil merengek. Tapi kemudian keinginan itu langsung terlupakan begitu saja. Dan saya pun kemudian ikut berpartisipasi dalam Kenduri Narablog nya Pak Gus tanpa berharap banyak, yah benar-benar hanya ingin meramaikan saja. Dan betapa senangnya saya pada saat pengumuman di postingan ”Mereka yang Beruntung” saya melihat bahwa saya mendapatkan novel ini. Alhamdulillah, ALLAH mengabulkan keinginan saya.

Pada saat membaca judul novel ”Negeri 5 Menara” ini, saya sama sekali belum bisa membayangkan gambaran cerita yang disuguhkan di dalamnya. Lalu iseng-iseng saya pun membuka halaman novel tersebut secara acak, dan akhirnya pandangan mata saya terdampar pada halaman 107. Setelah saya baca rangkaian kata, kalimat dan paragraf yang ada pada halaman tersebut. Subhanallah, sebuah novel yang sangat inspiratif saya fikir. Saya baru membaca satu halaman loh, tetapi semangat dan jiwa saya seperti telah dibakar (secara positif) oleh goresan-goresan kalimat di dalam lembaran tersebut.

Pada halaman 107 tersebut, saya membaca diantaranya paragraf-paragraf sebagai berikut: ”ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses yaitu: pertama, going the extra miles, atau terjemahan bebasnya di situ ditulis ”tidak menyerah dengan rata-rata”. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam; kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo; kalau orang menyerah di detik ke sepuluh, dia tidak akan menyerah sampai detik 20. Selalu berusaha meningkatkan diri lebih dari orang biasa. Itulah budaya going the extra miles. Kedua, tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur di luar diri kalian. Oleh siapa pun, apa pun dan suasana bagaimana pun. Kalian lah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar”.

Membaca satu halaman tersebut membuat saya semakin bernafsu ingin langsung melahap halaman demi halaman dari buku itu. Hmm, tampaknya akhir minggu ini insyaALLAh akan dihabiskan dengan membaca novel baru ini nih:).

Dan dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Agus Sukarno Suryatmojo atas Cinderamata nya dan kepada Sabai nan Aluih atas pilihan novel yang diberikan. Semoga ALLAH memberikan balasan yang sebaik-baiknya kepada beliau berdua. Dan semoga cinderamata ini semakin mempererat ikatan persahabatan dan persaudaraan diantara kita semua, amiin.


Read More..
Blog Widget by LinkWithin