Suatu sore ketika aku pulang dari kantor dan hendak berjalan menuju kosan, tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Pas pula saat itu aku sedang tidak membawa payung, sehingga akhirnya aku putuskan untuk menyewa ojek payung. Andhika namanya, sang pemilik payung tersebut. Saat ini ia duduk di kelas 2 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
Mengapa tiba-tiba aku ingin bercerita tentang seorang anak yang bernama Andhika itu?, karena ada beberapa jawaban yang sangat menyentuh hatiku yang terlontar dari mulutnya ketika di tengah percakapan kami aku bertanya padanya: ”Andhika sekolah dimana?”, ”di SMP Muhammdiyah”, jawabnya, ”oh ya???” kataku sedikit kaget. ”Hebat nih anak memilih sekolah agama di tengah-tengah pemikiran sebagian besar anak remaja zaman kini yang pastinya cenderung lebih memilih sekolah umum” kataku dalam hati. Lalu aku iseng melanjutkan pertanyaan:”ngomong-ngomong kenapa memilih Sekolah Muhammadiyah Dhik?”, dan dengan polosnya ia pun menjawab: ”karena diminta oleh ibuku kak, dan aku ingin membahagiakannya selama masih bersama”. ”Subhanallah” ada rasa kagum yang tiba-tiba hadir mengisi ruang hatiku, ”ya ALLAH anak sebelia ini begitu dalamnya memaknai kewajiban berbakti dan membahagiakan orang tua”.
Sejenak ingatan ku melayang kepada sosok Amak yang terdapat dalam cerita Novel ”Negeri 5 Menara”, betapa Amak sangat bersikeras agar Alif bersedia masuk sekolah agama agar kelak ia bisa menjadi seorang ahli agama, yang akan menyampaikan ayat-ayat ALLAH di muka bumi ini. Betapa mulia niat Amak kepada anaknya, Amak sangat prihatin dengan pemikiran sebagian besar remaja atau orang tua yang hanya memutuskan memilih sekolah agama untuk anak mereka karena nilai yang rendah atau tidak mencukupi untuk masuk sekolah umum, bukan karena ingin belajar dan memperdalam ilmu agama.
Dan saat ini saya sedang berhadapan dengan salah satu remaja yang memutuskan masuk sekolah agama karena alasan yang sama, diminta oleh orang tua. Bedanya mungkin, Alif pada awalnya merasa keberatan dengan permintaan amaknya, sementara anak belia yang ada di hadapanku secara sukarela memenuhi permintaan ibunya masuk sekolah agama dengan alasan karena ingin membahagiakan ibunya. Subhanallah...
Memang tidak kita pungkiri bahwa ada beberapa sekolah agama yang kualitasnya masih harus terus ditingkatkan, apalagi kalau saya perhatikan agak jarang terdengar sekolah agama yang menjadi sekolah favorit di suatu daerah. Sebagian besar sekolah favorit didominasi oleh sekolah-sekolah umum baik milik pemerintah maupun swasta. Tapi bukan berarti tidak ada sekolah agama yang kualitas nya bagus, saya fikir masih banyak yang bagus, hanya mungkin kurang terekspos karena orang memang cenderung lebih merasa bangga bersekolah di sekolah umum daripada sekolah agama (mungkin termasuk diri saya sendiri ketika dulu memutuskan memilih masuk sekolah umum dibanding sekolah agama). Dalam hati aku berharap semoga kelak Dhika akan merasakan manfaat tak ternilai yang dia dapatkan dengan masuk ke sekolah agama, sesuai dengan harapan orang tuanya, insyaALLAH...
Kembali ke Andhika, ada satu jawaban lagi yang membuat hatiku terkagum dibuatnya. Saya melanjutkan percakapan dengannya, ”di sekolah, apa pelajaran yang paling kamu sukai Dhik?” selidikku, ”aku paling suka pelajaran bahasa Indonesia kak!!” jawabnya penuh semangat di tengah deras hujan yang tengah mengguyuri payung kami, eh payung Andhika maksud ku hehehe:). ”Terus suka baca novel juga ga?” lanjutku, ”suka sih kak, tapi yah itu juga kalau ada waktu, karena selain sekolah aku juga harus membantu orang tua mencari uang, seperti yang saat ini aku lakukan, jadi tukang ojek payung”, cerita Dhika meluncur seperti derasnya hujan kala itu. Aku terenyuh mendengar penuturannya. Ah Andhika, kamu seorang anak yang hebat!!.
Ayahnya Andhika adalah seorang kuli bangunan, dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang terkadang ikut membantu keuangan keluarga dengan cara mencucikan baju tetangga. Andhika punya seorang kakak perempuan yang telah menyelesaikan SMU tetapi belum mendapatkan pekerjaan, sehingga dia mencoba untuk membantu keluarganya dengan cara yang bisa dilakukannya, salah satunya seperti saat itu menjadi tukang ojek payung.
Tak terasa kami telah sampai ke depan pintu pagar kosan ku, dan tiba saatnya aku berpisah dengan Andhika. Rasanya ingin bisa ngobrol lebih lama dengannya, tetapi hujan yang turun semakin deras membuat aku harus segera masuk ke kosan. Ah semoga nanti bila turun hujan lagi aku bisa berjumpa denganmu Andhika.
========================================================
NoTe A:
Dalam peringatan kemerdekaan NKRI ke 65 tahun, masih sangat banyak anak bangsa ini yang bernasib seperti Andhika, dia harus ikut bekerja di usia yang masih sangat belia agar bisa membantu keuangan keluarga. Ia masih belum ”merdeka” sepenuhnya untuk bisa belajar dan bermain demi mengejar dan meraih mimpi dan cita-citanya. Kemerdekaan negeri ini yang sudah menginjak tahun ke 65 ternyata masih menyisakan PR yang tidak sederhana untuk kita semua, salah satunya yaitu membebaskan anak-anak negeri ini dari ”hal-hal” yang belum menjadi tanggung jawabnya. Semoga sejak hari ini dan ke depan kita bisa mengisi dan memberikan ”sesuatu” bagi negeri tercinta dengan beragam cara dan semampu yang bisa kita lakukan, semoga...
NoTe B:
Untuk sosok Andika yang lain, ”Ipin”, seorang adik, sahabat, dan cowok tengil, yang memiliki mimpi dan bercita-cita bisa pergi ke Jepang atau Cina. Aku doakan semoga sampeyan bisa meraih segala mimpi dan cita-citamu yang masih tergantung di langit:). Seperti kata Andrea Hirata: ”Bermimpilah setinggi langit dan Tuhan akan memeluk mimpimu itu”...Ganbatte ne Dika chan!!. *btw kayaknya aku belum berani taruhan denganmu, siapakah diantara kita yg akan lebih dulu sampai ke Jepang:)*. Mulai saat ini aku akan memperbanyak doa semoga saja bisa bertemu dengan ”koibito” yg akan membawaku terbang ke negeri sakura itu *mimpi.com*.